Tempuh Perjalanan Panjang dari Papua Tengah, PWNU Bawa Aspirasi Wilayah Timur ke Muktamar NU ke-35

JOMBANG, Kamis 27 Agustus 2026 - Perjalanan panjang dari Papua Tengah menuju Jombang tidak menyurutkan semangat rombongan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Papua Tengah untuk menghadiri Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).


Ketua PWNU Papua Tengah Imam Mawardi Ma’ksum mengatakan, rombongan harus menempuh perjalanan udara dari Timika menuju Makassar, kemudian melanjutkan penerbangan ke Surabaya sebelum akhirnya tiba di Jombang, Jawa Timur.


Perjalanan tersebut sempat menghadapi kendala akibat kondisi kabut asap dan pembakaran hutan yang berdampak pada jadwal penerbangan. Bahkan, penerbangan dari Kenarotali menuju Timika saat itu tidak tersedia.


Namun, berbagai kendala tersebut tidak menyurutkan niat rombongan untuk menghadiri forum lima tahunan NU tersebut.


“Perjalanan panjang, nyali yang besar. Alhamdulillah, karena niatan yang baik dan ridho dari Allah SWT, kami diberikan kelancaran sampai di Jombang,” ujar Imam saat ditemui di sela-sela Muktamar NU ke-35, Kamis (27/8/2026).


Sebanyak 25 orang dari Papua Tengah hadir dalam rombongan tersebut. Mereka terdiri dari unsur PWNU dan PCNU, termasuk jajaran pengurus, Rais Syuriyah, Katib, serta rombongan lainnya.



Bagi Imam, kehadiran mereka di Muktamar bukan sekadar untuk mengikuti rangkaian kegiatan organisasi. Ada aspirasi dari Nahdliyin di wilayah timur yang ingin disampaikan kepada kepemimpinan NU ke depan.


Ia berharap, kepemimpinan NU lima tahun mendatang mampu memperkuat konsolidasi hingga ke daerah, terutama wilayah timur Indonesia.


“Harapan kami, lima tahun ke depan ada pemimpin-pemimpin yang bisa konsolidasi ke bawah. Jadi bukan semata-mata kami yang ada di bawah ini dianaktirikan, ketika Muktamar baru diakomodir,” tegasnya.


Menurut Imam, perjuangan mengembangkan NU di Papua membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit, mulai dari waktu, tenaga hingga biaya. Karena itu, ia berharap pengurus pusat tidak hanya hadir ketika momentum Muktamar, tetapi juga turun langsung melihat kondisi NU di daerah.


“Perjuangan kita ini sangat-sangat menguras waktu, lebih-lebih tenaga dan biaya,” katanya.


Imam juga menyoroti peran Fatayat NU sebagai salah satu kekuatan penggerak kader perempuan muda NU di Papua Tengah.


Menurutnya, keberadaan Fatayat memberikan semangat dan kekuatan bagi gerakan NU di wilayah tersebut.


“Fatayat adalah motor penggerak daripada pemudi-pemudinya. Kalau saya sendiri tanpa ada mbak-mbak Fatayat, mungkin kami juga merasa lemah. Tapi karena ada kekuatan daripada mbak-mbak Fatayat, akhirnya kami juga punya semangat yang tinggi,” ungkapnya.


Ia menyebut, PP Fatayat NU sebelumnya telah melakukan kunjungan ke Papua sebanyak dua kali pada masa almarhumah Ning Margaretha.


Selain itu, Wakil Presiden juga pernah hadir dalam agenda peresmian gedung PCNU di Papua. Menurut Imam, kehadiran tokoh-tokoh NU maupun pemerintah secara langsung memberikan dorongan moral bagi Nahdliyin di wilayah Papua.


Menghadapi kepemimpinan NU lima tahun ke depan, Imam berharap Rais Aam dan Ketua Umum PBNU terpilih dapat membangun sinergi yang kuat.


Ia juga berharap kepemimpinan baru tidak hanya berfokus pada pusat, tetapi memberikan perhatian yang lebih nyata kepada NU di daerah.


“Harapan untuk ketua terpilih, mudah-mudahan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU bersama-sama saling bersinergi,” ujarnya.


Ia menegaskan, wilayah Papua dan Indonesia timur memiliki perjuangan serta tantangan tersendiri dalam mengembangkan NU. Karena itu, menurutnya, konsolidasi langsung ke daerah sangat dibutuhkan agar seluruh struktur NU merasa menjadi bagian yang setara dalam organisasi.


Kehadiran 25 Nahdliyin Papua Tengah di Muktamar Ke-35 NU di Jombang menjadi bukti bahwa jarak geografis bukan penghalang untuk terus menjaga khidmah kepada NU.


Dari ujung timur Indonesia, mereka datang membawa semangat sekaligus harapan agar kepemimpinan NU ke depan semakin dekat dengan Nahdliyin di daerah dan mampu memperkuat konsolidasi hingga pelosok negeri.

0 Komentar