Di Tengah Muktamar ke-35 NU, RIMS dan PP An-Najiyah 1 Gelar BookTalk Tafsir Bernuansa “Tongkrongan Berkelas”



JOMBANG – Di tengah rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), diskursus keislaman kembali dihidupkan melalui kegiatan Launching dan BookTalk buku “Kritik Teks dan Historisitas Tafsir” yang digelar di Pondok Pesantren An-Najiyah 1, Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Sabtu (29/8/2026).


Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi Research Institute on Multifaith Societies (RIMS) dengan PP An-Najiyah 1. Acara terbuka untuk umum dan diikuti berbagai kalangan, mulai dari santri Ma'had Aly, dosen, akademisi, hingga masyarakat umum.


Panitia acara dari RIMS, Kak Wildan, mengatakan kegiatan tersebut sengaja digelar bersamaan dengan momentum Muktamar ke-35 NU. Menurutnya, kegiatan ini menjadi ruang untuk kembali membumikan diskursus tafsir di tengah masyarakat.


“Bisa dikatakan self design-nya Muktamar. Tentu ini sangat erat kaitannya dengan Muktamar, apalagi dengan judulnya Kritik Teks dan Historisitas Tafsir,” ujarnya.


Ia menjelaskan, pemilihan tema tersebut diharapkan dapat membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai tafsir Al-Qur'an, terutama dalam konteks perkembangan pemikiran Islam dan tradisi intelektual Nahdlatul Ulama.


Antusiasme peserta terlihat dari beragamnya latar belakang yang hadir. Selain santri, kegiatan ini juga dihadiri mahasiswa Ma'had Aly, dosen, rektor, akademisi, dan masyarakat umum.


Kegiatan menghadirkan penulis buku, KH Farid Saenong, M.A., Ph.D., yang merupakan Staf Khusus Menteri Agama Republik Indonesia sekaligus dosen Universitas Islam Internasional Indonesia. Turut hadir Dr. KH. Basnang Said, S.Ag., M.Ag., serta Prof. Dr. M. Luthfi Zuhdi, Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, sebagai pembahas.


Salah satu peserta, Ahmad Thoyib dari Ma'had Aly Darul Ulum Peterongan Jombang, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru setelah mengikuti kegiatan tersebut.


“Alhamdulillah banyak wawasan baru mengenai sejarah dan historis Al-Qur'an. Ini juga sesuai dengan diskursus di Ma'had Aly kami, khususnya tentang Al-Qur'an dan ilmunya,” katanya.


Menurut Ahmad, hal yang menarik dari kegiatan tersebut dengan suasana diskusinya yang dikemas secara santai dan dekat dengan peserta.


“Ini pertama kali launching buku dengan vibes tongkrongan bersama para profesor dan menteri. Ini pertama kali tongkrongan yang saya rasakan, tongkrongan berkelas,” ungkapnya.


Ia menilai tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi umat Islam saat ini. Menurutnya, pemahaman terhadap sejarah dan kajian Al-Qur'an penting agar umat memiliki wawasan yang lebih luas ketika menghadapi berbagai kritik terhadap Al-Qur'an.


“Kegiatan ini sangat relevan sekali, karena banyak juga dari kalangan umat Islam sendiri yang mengkritisi Al-Qur'an, apalagi orang luar,” ujarnya.


Melalui kegiatan tersebut, RIMS dan PP An-Najiyah 1 berharap diskusi mengenai tafsir tidak hanya berhenti di ruang akademik, tetapi dapat lebih dekat dengan santri dan masyarakat luas. Momentum Muktamar ke-35 NU pun menjadi ruang yang dinilai tepat untuk menghidupkan kembali tradisi intelektual dan budaya dialog dalam kajian keislaman.

0 Komentar