Jombang, Media MWC NU Ngasem – Di balik semarak pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), terdapat para relawan yang bekerja di dapur umum untuk memastikan kebutuhan konsumsi para peserta dan petugas terpenuhi. Salah satunya adalah tim konsumsi dapur umum yang setiap hari menyiapkan ribuan porsi makanan.
Penanggung Jawab (PJ) Konsumsi Dapur Umum, Icha Aulaul Muhimmah, mengatakan pihaknya bertugas menyiapkan konsumsi bagi panitia, satgas keamanan, maupun instansi yang membutuhkan. Setiap permintaan konsumsi dilayani dengan catatan telah masuk dalam daftar permintaan.
“Kami menyiapkan beberapa konsumsi dari panitia. Tugas utamanya membuat konsumsi untuk panitia, satgas keamanan, dan instansi yang meminta. Kami bisa memberi siapapun yang meminta, asalkan ada list permintaannya,” ujar Icha saat diwawancarai, Sabtu (29/8/2026).
Ia menjelaskan, proses memasak berlangsung mulai 26 hingga 30 Agustus 2026. Dalam sehari, dapur umum menyiapkan sekitar 6.000 porsi, terdiri dari 3.000 porsi untuk makan siang dan 3.000 porsi untuk makan malam.
Untuk menjalankan tugas tersebut, tim dibagi ke dalam beberapa bagian, mulai dari persiapan bahan, memasak, hingga proses pengemasan makanan. Pembagian tugas dilakukan agar proses penyediaan ribuan porsi makanan dapat berjalan dengan tertib dan efektif.
Tim dapur umum juga melibatkan sumber daya manusia dari berbagai unsur, di antaranya adalah SPPG Fatayat Jombang, PAC Fatayat NU se-Kabupaten Jombang yang bertugas secara bergiliran setiap hari, serta anggota PAC Muslimat NU.
Menurut Icha, keberagaman usia, karakter, dan latar belakang anggota menjadi salah satu tantangan dalam menjalankan dapur umum. Setiap hari mereka harus berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang yang berbeda.
“Tantangannya tentu kita di sini dengan SDM yang sangat berbeda-beda, dengan karakter yang berbeda. Setiap hari bertemu orang yang berbeda, ada relawan, tim SPPG, PAC Fatayat se-Kabupaten Jombang dengan giliran setiap hari, ada juga dari PAC Muslimat. Dari beberapa hal ini ada perbedaan usia yang harus kita samakan, bagaimana cara komunikasi yang baik,” jelasnya.
Di tengah kesibukan tersebut, Icha justru melihat pengalaman di dapur umum sebagai bagian penting dari khidmah dalam Muktamar ke-35 NU. Jika kemeriahan Muktamar terlihat dari panggung, penampilan, dan para tokoh yang hadir, dapur umum menjadi tempat bertemunya orang-orang yang bekerja di balik layar.
“Kesannya banyak banget, kita bertemu dengan banyak orang. Apalagi acara dengan skala nasional, biasanya kita melihat di depan, venue yang megah, acara yang ramai, penampilan yang menarik, dan bertemu orang-orang besar. Kalau di dapur umum ini kita bertemu orang-orang yang ada di balik layar, bagaimana orang-orang berkhidmah,” tuturnya.
Ia menambahkan, keberadaan dapur umum menjadi gambaran bahwa kesuksesan Muktamar tidak hanya ditentukan oleh mereka yang berada di panggung, tetapi juga oleh banyak tangan yang bekerja dengan ikhlas di balik layar.
“Meskipun di depan bagaimana semaraknya Muktamar, tetapi ada tangan-tangan yang ikhlas untuk berkhidmah,” katanya.
Dukungan dari warga Nahdliyin juga turut memperkuat operasional dapur umum. Icha menyebut, pihaknya menerima berbagai bentuk shadaqah, di antaranya tujuh ekor sapi, sayuran sebanyak satu truk dari Ikabu Malang, sekitar 20 ton beras dari warga Nahdliyin, 2,5 kuintal ikan lele, serta bantuan sembako dari PCNU sekitar dan Ikabu.


0 Komentar